Tepat! Presiden Jokowi Ajak Bangun Ketahanan Pangan Sesuai Karakteristik Daerah

 


JAKARTA - Presiden Joko Widodo mengimbau seluruh kepala daerah di Indonesia untuk membangun ketahanan pangan nasional sesuai karakteristik masing-masing daerah, Selasa (28/6/2022). Menurut Jokowi, ketahanan pangan betul-betul harus menjadi konsentrasi bersama, fokus kedepannya membahas hal tersebut.  “Setiap daerah harus memiliki keunggulan pangan masing-masing sesuai dengan karakteristik tanahnya dan kondisi masyarakatnya dan sesuai dengan tradisi makan warganya,” kata Jokowi di Lenteng Agung, Jakarta Selatan, Selasa (21/6). Seperti halnya di Nusa Tenggara Timur (NTT) masyarakat mengembangkan tanaman porang dan di Tanah Papua sangat cocok untuk tanaman sagu. Dijelaskan, sagu adalah komoditas yang cocok ditanam di tanah Papua sekaligus menjadi makanan pokok masyarakat di daerah itu. Oleh karena itu, penanaman tanaman sagu harus terus dipertahankan dan tidak dialihkan ke komoditas lainnya yang tidak sesuai dengan karakteristik tanah dan masyarakat Papua. “Jangan kita paksa untuk keluar dari kekuatannya, dari karakternya,” tegas Jokowi.  Tak hanya itu, sagu dan porang juga berpotensi untuk dikembangkan menjadi komoditas ekspor Indonesia. Komoditas ini banyak diminati oleh negara lain karena dinilai lebih menyehatkan. “Sagu itu justru makanan yang paling sehat karena gluten free. Ini nanti yang akan dikejar oleh negara-negara lain, hal-hal yang seperti ini yang kita sering lupa. Termasuk porang, kenapa dikejar? Karena di situ juga sangat rendah gulanya, makanan yang sangat sehat,” ujarnya. Selain itu, kata Presiden Jokowi, penanaman sorgum secara besar-besaran akan dilakukan di Nusa Tenggara Timur. Tanaman ini dinilai cocok dengan karakteristik wilayah serta akan menjadi kekuatan NTT di sektor pangan. Penanaman sorgum ini telah diujicobakan di lahan seluas 40 hektare di Waingapu. “Tanpa air yang banyak sorgum di NTT terlihat tumbuh sangat subur dan tumbuh sangat hijau. Ternyata sebelumnya memang warga di NTT itu nanem-nya sorgum atau cantel tapi bergeser ke beras,” lugasnya. Presiden menambahkan, sorgum dapat menjadi alternatif komoditas gandum yang saat ini harganya melonjak terdampak dari konflik Ukraina dan Rusia. Impor gandum Indonesia saat ini mencapai 11 juta ton. “Sorgum bisa menjadi alternatif pengganti gandum yang harganya saat ini sedang melambung sangat tinggi dan kita tergantung impor dari luar,” pungkasnya.

Komentar